My Lovely Story
“Cinta seorang ibu tak berhenti di dunia ini — ia hidup di antara doa
dan kenangan.”
Ada masa dalam hidupku ketika aku merasa dunia begitu indah.
Tahun 2021 adalah salah satunya — tahun ketika aku kembali menjadi seorang ibu bagi
bayi mungil bernama Muhammad Hatim Rafisqy. Ia lahir pada 23 Juli 2021, membawa
harapan baru dan kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan kata-kata.
Hatim datang sebagai anugerah yang tak terduga. Jarak usianya cukup jauh dari
kakak-kakaknya — empat belas tahun dengan kakak kedua dan tujuh belas tahun
dengan abang tertua. Karena itu, kehadirannya seperti menghadirkan kembali
keceriaan masa lalu. Rumah kami kembali ramai dengan tawa, tangisan, dan aroma
bayi yang menenangkan hati. Semua anggota keluarga seolah mendapat energi baru
hanya dengan melihat wajah kecilnya.
Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Di usianya yang baru dua bulan tiga
hari, tepat 26 September 2021, Hatim pergi begitu saja. Tanpa sakit, tanpa
tanda, tanpa sempat berpamitan. Dunia seketika terasa hening. Aku terdiam di
antara selimut kecilnya yang masih hangat, mencoba memahami kenyataan yang
begitu sulit diterima: bayiku sudah tidak ada lagi.
Hari-hari setelah itu menjadi waktu paling berat dalam hidupku. Aku merasa
kehilangan arah, kehilangan bagian dari diriku sendiri. Tapi di tengah
kesedihan, perlahan aku mulai menyadari sesuatu: Hatim memang hanya singgah
sebentar di dunia ini, tapi kehadirannya meninggalkan pelajaran besar tentang
arti cinta, kesabaran, dan keikhlasan.
Aku belajar bahwa cinta seorang ibu tidak diukur dari lamanya waktu bersama,
tetapi dari dalamnya perasaan yang tertanam di hati. Aku juga belajar bahwa
kehilangan bukan berarti akhir dari kasih sayang, karena doa akan selalu
menjadi jembatan antara bumi dan langit.
Kini, setiap kali aku menatap langit malam, aku selalu membayangkan Hatim di
sana — tersenyum lembut di sisi Tuhan, bebas dari sakit dan tangis. Ia datang
hanya sebentar, tapi cukup lama untuk mengajarkanku betapa berharganya setiap
detik kebersamaan.
Muhammad Hatim Rafisqy, anakku tersayang, engkau mungkin telah kembali ke
pelukan Tuhan, tapi engkau tak pernah benar-benar pergi dari hatiku. Terima
kasih sudah mengajarkanku cinta yang paling murni — cinta yang tak menuntut,
tak memudar, dan tak berkesudahan.
Ms.Amel


Air mata tetap mengalir meski ini adalah kisah sendiri dan waktunya sudah lama berlalu
BalasHapusSemangat ya Miss . Insyaallah dek Hatim menunggu Miss di surganya Allah.
BalasHapusTerimakasih bestie
HapusSebuah kisah yang sudah tertulis, ketika kita ikhlas, Allah bangunkan Rumah Hamdallah di syurga.
BalasHapusI learned from you.
HapusSemangat kk... InsyaAllah semua kita akan jumpa lagi disana... dan dek hatimu sedang menunggu dengan senyuman
BalasHapusTerimakasih dek
HapusUjian hidup terkadang tidak hanya membuat kita makin tegar, namun akan membuat kita semakin memaknai hidup dengan lebih bijaksana dan tenang.
BalasHapusBenar sekali kk. Allah tidak akan membebani hamba-Nya diluar batas kemampuannya
Hapus