Sepenggal Cerita

 

Sore dan Sepotong Durian

Sore itu, udara terasa lembut setelah hujan kecil turun sebentar. Jalanan mulai ramai lagi, sementara langit memerah perlahan. Di pinggir trotoar, Bu Lia duduk di kursi plastik, menikmati sepotong durian yang baru saja dibuka penjualnya.

“Enak kali, Nak… udah lama Mamak nggak makan durian kayak gini,” katanya sambil tersenyum puas.

Anak gadisnya tertawa kecil. “Iya, Mak. Lihat deh, Mamak kayak anak kecil nemu permen.”

Bu Lia ikut tertawa, menatap buah di tangannya. “Ya gimana, Nak… durian itu nostalgia. Dari dulu Mamak memang suka banget sama durian.”

“Pantes Ibu seneng banget,” sahut anaknya sambil mengeluarkan ponsel. “Senyum dulu, Mak. Nih, aku foto buat kenang-kenangan.”

“Eh jangan deh, muka Mamak belepotan durian nanti,” ujar Bu Lia malu-malu. Tapi anaknya tetap memotret diam-diam, lalu menunjukkan hasilnya.

“Bagus kok, Mak. Natural banget. Ini ekspresi orang bahagia,” katanya sambil terkekeh.

Bu Lia hanya geleng kepala, tapi dalam hati ia merasa hangat. Sesederhana itu kebahagiaan sore itu—aroma durian, tawa ringan, dan waktu berdua dengan anaknya.

“Kadang Mamak pikir,” ujarnya pelan, “bahagia itu nggak perlu jauh-jauh dicari. Cukup duduk di pinggir jalan, makan durian, bareng orang yang Mamak sayang.”

Anaknya menatapnya lembut. “Iya, Mak. Dan aku juga bahagia bisa nemenin Mamak makan durian meski aku gak suka. Hehe”

Langit makin temaram, tapi senyum mereka masih bertahan lama, bahkan setelah durian terakhir habis. 🌅

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Lovely Story

Kisahku

Holiday