Isi hati wanita

 Dalam Diam yang Ingin Didengar


Ada satu kebiasaan yang Sari miliki sejak menjadi istri: ia jarang berbicara tentang apa yang ia rasakan. Bukan karena ia tidak mampu, bukan karena tidak ada orang yang bisa mendengarkan, tapi karena kata-kata sering kali terasa terlalu berat untuk diucapkan. Dan sebagai seorang ibu, ia merasa bahwa diam adalah cara paling aman untuk menjaga semua orang tetap tenang.

Rumah mereka tidak besar, tapi penuh kenangan. Di teras kecil itulah dulu Rafi—suaminya—memasang meja lipat, kompor kecil, dan wajan besar yang sudah menjadi saksi perjalanan hidup mereka. Sari masih bisa membayangkan betapa ramainya pagi mereka dulu. Suara minyak panas yang bergemericik, anak-anak berlarian mencari bekal sebelum berangkat sekolah, dan Rafi yang selalu memanggilnya dengan nada riang:
"Sar, tolong ambilkan tepung! Pesanan sudah menumpuk!"

Rafi senang melayani orang. Ada semacam kepuasan tersendiri baginya saat melihat seseorang menggigit gorengan buatannya sambil tersenyum. Dan Sari, di sampingnya, selalu merasa bahwa hidup mereka sederhana tapi cukup. Bahagia tidak harus megah.

Namun hidup tidak menetap. Suatu pagi yang biasa saja, Rafi mengeluh dadanya terasa berat. Sesak. Batuk. Awalnya mereka pikir ini cuma kecapekan. Tapi hari berganti hari, tubuh Rafi semakin melemah. Ia tak bisa lagi berdiri lama-lama. Tangannya bergetar jika memegang wajan. Suatu hari ia mencoba berjualan lagi, tetapi setelah beberapa menit ia hampir jatuh pingsan. Sejak kejadian itu, lapaknya ditutup.

Ruang rumah seakan bertambah luas dan sepi ketika suara-suara riuh pembeli tak lagi mampir. Sari melewati teras itu setiap hari dengan hati yang seperti diremas. Ia tahu suaminya kehilangan bukan hanya pekerjaan, tetapi juga bagian dari dirinya. Bagian yang dulu membuatnya merasa berguna.

Malam hari, saat anak-anak sudah masuk kamar, Sari sering melihat suaminya duduk termenung. Bahkan napasnya terdengar berat, entah karena sakit atau karena beban pikiran. Sari ingin memeluknya, ingin berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi setiap kata yang ingin ia ucapkan rasanya berhenti di tenggorokan. Ia takut salah bicara dan justru membuat Rafi makin sedih.

Ada kalanya Rafi bertanya dengan suara rendah, hampir seperti berbisik,
"Sar… kamu capek?"
Dan Sari selalu menjawab,
"Tidak, Bang. Aku kuat."
Padahal ia tahu jawaban itu tidak selalu benar.

Sari punya tiga anak. Semuanya sudah beranjak dewasa dan mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Kadang mereka pulang larut, kadang hanya masuk rumah sebentar lalu pergi lagi. Sari paham. Hidup mereka sedang dibangun. Mereka punya mimpi dan cita-cita. Hatinya tak pernah ingin menjadi beban.

Tapi ada saat-saat ketika ia sangat ingin bercerita. Tentang ketakutan malamnya. Tentang pusingnya memikirkan kebutuhan rumah yang terus berjalan. Tentang rasa kehilangan ketika melihat suaminya tidak lagi ceria seperti dulu. Tentang lelahnya menjadi tempat sandaran semuanya, sementara ia sendiri tak punya bahu untuk bersandar.

Namun wajah-wajah anaknya yang tegas, yang sering bicara praktis, membuat Sari sering ragu. Bagaimana kalau mereka mengira aku lebay? Bagaimana kalau mereka menganggap aku hanya memperkeruh suasana? Ia bahkan bisa membayangkan salah satu anaknya berkata,
"Mak, kecil kali masalahnya. Jangan dipikirkanlah…"

Kata-kata itu, meski belum diucapkan, sudah membuatnya takut. Sari tidak siap jika perasaannya diremehkan oleh orang-orang yang paling ia cintai.

Karena itu, ia memilih diam.

Diam ketika hatinya sedih.
Diam ketika ia ingin menangis.
Diam ketika malam terasa terlalu panjang.

Ia menyalurkan semuanya lewat pekerjaan rumah: memasak, mencuci, membersihkan rumah. Tangannya bekerja, sementara pikirannya berusaha tetap kokoh. Kadang-kadang ia menahan air mata saat menggoreng sambal, berharap kepulan uap membuat matanya berair tidak tampak mencurigakan.

Setiap kali anak-anak bertanya, “Mak nggak apa-apa?”
Ia hanya tersenyum dan menjawab,
"Nggak apa-apa. Mak cuma lelah sedikit."

Sari tidak pernah meminta balasan. Ia hanya ingin didengar. Bukan untuk dikasihani, tapi untuk dimengerti. Ia ingin ada seseorang yang mau duduk di sampingnya, menatap matanya, lalu berkata,
"Mak, cerita saja. Kami mau dengar."

Namun harapan itu—hingga kini—masih ia simpan sendiri.

Meski begitu, Sari bukanlah wanita yang kalah. Ia bukan wanita yang putus asa. Ada kekuatan dalam dirinya yang tidak setiap orang bisa lihat. Diamnya bukan tanda ia rapuh. Diamnya adalah bentuk kasih yang tidak ingin menyusahkan siapapun.

Ketika Rafi sesekali memanggil namanya dengan suara lemah, Sari selalu mendekat. Ia mengambilkan minum, memijat tangan suaminya, atau sekadar duduk bersamanya. Dalam hati ia selalu berkata,
"Aku masih di sini. Aku tidak pergi."

Suaminya mungkin sudah kehilangan pekerjaannya, tapi Sari tidak pernah kehilangan cintanya pada keluarga. Dan meskipun terkadang ia merasa sendirian, ia masih bertahan, masih melangkah, masih meyakinkan dirinya bahwa badai ini pasti berlalu.

Pada suatu senja, ketika hari hampir gelap, Sari berdiri di teras sambil menatap bekas lapak dagangan suaminya. Ia meremas ujung jilbabnya, menahan gejolak yang tiba-tiba menyeruak. Angin sore membawa aroma dedaunan basah, membuatnya mengingat kembali betapa kerasnya hidup yang telah ia jalani.

Ya Allah…”
Hanya itu yang sanggup ia ucapkan. Sebuah doa pendek, tetapi penuh dengan seluruh isi hatinya.

Lalu ia menarik napas panjang, mengusap matanya pelan, dan melangkah masuk ke rumah. Dalam diamnya, Sari terus berjuang. Tanpa sorotan, tanpa tepuk tangan, tanpa pujian.

Hanya seorang istri.
Hanya seorang ibu.
Tapi cintanya—dan keteguhannya—lebih besar dari yang bisa dibayangkan siapa pun.



Oleh: Seorang ibu


Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Lovely Story

Kisahku

Holiday