Kisah Seorang Murid yang Menemukan Ibu dalam Sosok Gurunya
A lya dan Pelukan yang Kembali Ia Temukan Alya selalu bangun lebih pagi daripada anak-anak seusianya. Usianya baru menginjak enam tahun ketika dunia yang ia kenal berubah selamanya. Hari itu masih ia ingat jelas, wangi minyak rambut ibunya, baju daster bermotif bunga, dan tangan hangat yang membantunya menyisir rambut. Memang ibunya sudah lama sakit, namun Alya tidak pernah menyangka akan secepat itu ia berpisah dengan ibunya. Ayahnya mencoba bertahan, tapi ia bekerja dari pagi hingga malam. Sepulang kerja, tubuhnya terlalu lelah untuk bercerita, terlalu letih untuk mengajak Alya duduk bersama. Rumah itu tetap rumah, tapi tidak lagi terasa seperti tempat berpulang. Alya kehilangan kehangatan di rumahnya. Alya tumbuh menjadi anak yang pendiam. Ia belajar merapikan kasur sendiri, menyiapkan seragam sendiri, dan mengikat rambut sekenanya. Ia terbiasa menahan rasa rindu sendirian, rindu yang bahkan tidak punya tempat untuk diceritakan. Dan tahun-tahun pun berlalu mengiringi kekosongan...